“Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi.”― Dee
Well, mungkin quote diatas benar sekali. INTERAKSI. Itu yang penting dalam cinta. Ngomong-ngomong tentang cinta, gue udah sekitar 5 bulanan sih putus. Putus dengan seseorang yang udah ada di hati gue selama 3 tahun 2 bulan. Orang yang udah sama gue, ngalamin yang namanya naik-turunnya dalam sebuah hubungan. Menyedihkan memang. Gue nggatau harus gimana lagi, rasanya harus berpisah sama "someone special" itu rasanya menyedihkan, menyakitkan. Gue pun ngga bisa ngendaliin emosi gue. Bahkan disaat guru sedang menerangkan pelajaran, gue hanya bisa tertunduk lesu menangis. WHAT? MENANGIS? Iya, Fajar yang biasanya hanya sekedar menggalau, suka bercanda, sudah tidak ada. Hari itu pun menjadi hari yang paling menyedihkan. Rasanya seperti semua orang menyebalkan, mengganggu, membuat jengkel. Nothing more.
Hari berlangsung hari, memang sih gue ngga ada hubungan lagi sama dia, tapi gue masih kontak dengan dia. Ada suatu hal yang membuat gue sedih. Semenjak gue dan dia putus, interaksi dengan dia pun semakin meningkat. Kita sering ketemu gitu, ngobrol bareng sampe matahari pun menyuruh kita untuk pergi ke rumah kita. INTERAKSI. Gue pun nyadar, selama 2 bulan setelah gue putus, interaksi dengan dia pun meningkat. Bahkan kita pun sempat keluar bareng, suatu hal yang bahkan waktu gue dan dia ada di suatu hubungan tidak dimiliki. Akhirnya gue mutusin buat ngehilangin interaksi itu. Gue sadar kalo gue bukan siapa-siapa dia. Bukan karena gue ngga suka, gue benci, gue udah move on, tapi karena gue ngga ada hak buat sekedar menyapa dia lagi.
Hari-hari berlanjut seperti biasa. Gue jadi gue yang lama, gue yang suka galau, suka bercanda. Tapi gue rasa gue kehilangan suatu hal yang paling penting. PENYEMANGAT. Gue ngerasa sekali kehilangan itu. Seseorang yang jadi penyemangat, seseorang yang jadi idola, seseorang yang selalu ngebuat gue ngerasa "Dia aja bisa, kenapa gue ngga bisa? Harusnya gue bisa lebih dari itu!". Terlepas dari itu, hidup gue seperti sebelumnya, no other things that is specials for me.
“Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.” - Sapardi Djoko DamonoQuote lain dari tokoh yang terkenal ini. Gue ngga bisa berhenti mendoakan dia yang terbaik selalu. Gue berdoa pada Tuhan agar dia selalu ceria, selalu bahagia. Di tiap tangisan gue, gue selalu berkata "Tuhan, berikan dia yang terbaik. Karir yang terbaik. Jodoh yang terbaik. Semuanya. Gue ngga ingin dia sedih, gue ngga pengen liat dia menangis.". Gue ngerti kalo dia udah move on, udah lupa sama gue, udah ada cowok lain yang (mungkin) membuatnya selalu tertawa, membuatnya nyaman. Gue sakit, tapi di dalam hati gue yang sangat dalam, gue juga ikut bahagia karena dia bahagia.
“Untuk menyembuhkan luka kadang kita harus menahan, mengobati, atau membuat luka yang baru.” - Dara Prayoga, Analogi cinta sendiri
“Selucu apapun lelucon yang gue temukan, tawa itu enggan keluar. Patah hati ternyata bisa menghilangkan selera humor dan membuat segalanya terasa hambar.” - Dara Prayoga, Analogi cinta sendiri
“Ia segalanya yang kau inginkan, sekaligus segalanya yang tidak bisa kau miliki...” - Stephenie MeyerItulah quote terakhir dalam postingan pertama blog gue ini. Gue ngga sanggup kalo harus nahan air mata, daripada nanti puasa gue batal, mending gue tutup dulu postingan ini. Well, hope to see you again!


No comments:
Post a Comment